|
| Mgr Francis An Shuxin, uskup Gereja “terbuka” di Keuskupan Baoding, merayakan Misa. |
Penempatan Uskup Koajutor “Gereja terbuka” Baoding (untuk Gereja terbuka) Mgr Francis An Shuxin memicu debat sengit berkelanjutan.
Sejak dilantik pada 7 Agustus, berbagai pertanyaan muncul di situs-situs Katolik Cina tentang status Uskup Koajutor “Gereja bawah tanah” Baoding Mgr James Su Zhimin (alias Zhemin) yang kini berada dalam tahanan.
Ada sementara umat juga yang mempertanyakan bagaimana Kongregasi Kepausan untuk Evangelisasi menesehati uskup An menyangkut isu tersebut, jika Vatikan tahu bahwa perbuatan uskup tersebut baik, sebagaimana dinyatakan Vatikan dalam sebuah surat tahun 2008.
“Bagaimana persatuan di Baoding itu bisa terjadi jika kongregasi kepausan itu bungkam terhadap isu tersebut?” demikian tulis sebuah poster, sementara poster lain menyulis, “kinilah saatnya bagi Takhta Suci untuk memikirkan kembali kebijakannya, jika tidak maka lelucon itu berada di atas angin.”
Seorang pakar hukum kanonik yang lebih ingin anonim mengatakan ucanews.com bahwa penempatan itu tidak hanya untuk uskup.
“Hal yang sama berlaku juga bagi seorang imam yang dipindahkan ke paroki lain,” katanya. “Jadi penempatan Uskup An itu tidak berarti statusnya berubah, jika dia tahu situasinya sendiri.”
Sementara itu, sejumlah komentator tentang persoalan Gereja di Cina memprediksi bahwa Uskup An bisa menghadapi kesulitan lebih besar ketimbang yang dihadap para uskup “bawah tanah” yang ditempatkan di Gereja “terbuka.”
“Penempatan itu memang hal yang baik bagi pemerintah, tetapi terlalu prematur untuk mengatakan bahwa hal itu baik bagi Gereja,” kata Kwun Ping-hung, seorang pengamat yang berbasis di Hong Kong. “Melalui kepemimpinan Uskup An, pemerintah ingin menguasai Gereja Baoding yang kebanyakan umatnya adalah komunitas Gereja ‘bawah tanah.’ Namun untuk mencapai rekonsiliasi yang diinginkan Vatikan itu agaknya sulit.”
“Bahkan surat dari Kardinal Bertone, menteri luar negara Vatikan, kepada Uskup An pada Februari lalu hanya didukung oleh beberapa imam bawah tanah. Jadi masih tidak ada persatuan,” kata Kwun. “Karena kasus ini telah menjadi keprihatinan di kalangan umat, Takhta Suci hendaknya menjelaskan sikapnya, agar tetap terjaga kepercayaan terhadap Uskup Su, terhadap Gereja Baoding, dan terhadap Gereja Cina,” lanjutnya.
Namun, klerus dari komunitas Gereja “terbuka” dan para pengamat lain mengatakan bahwa Uskup An membuat langkah tepat dengan menjaga hubungan dengan pemerintah.
“Saya yakin Vatikan telah berkompromi dengan pemerintah menyangkut kasus ini,” kata Ren Yanli, seorang mantan peneliti yang tinggal di Beijing. “Inilah yang dibutuhkan demi kebaikan Gereja di Cina, sekalipun dibutuhkan waktu bagi Uskup An untuk mengubah mentalitas dari komunitas Gereja ‘bawah tanah.’”
Oleh Reporter ucanews.com, Hong Kong, Cina
391 words
Share artikel ini:





Berbagi cerita dengan kami
Bergabung dengan kami di Twitter


